Sebuah Cerpen yang Telat Rilis: Kopi dan Kursi Kosong

Kopi dan Kursi Kosong
0

Senja masih menggelayut di ufuk barat. Matahari pun masih terpaku di ujung langit, seakan malas untuk turun dan tenggelam, digantikan bulan yang sudah mulai malu-malu menampakkan raut mukanya. Tampak bayangan samar gedung-gedung pencakar langit di sisi lain tempatku berada saat ini, yang keadaannya berbeda jauh walau terpisah hanya selemparan batu.

Kualihkan pandanganku ke gelas kosong di depanku. Sembari melihat kursi di depanku yang juga kosong, hampa. Semakin kulihat, semakin aku larut dalam kerinduan. Walaupun aku tahu kursi itu akan tetap kosong.

Bosan, aku beranjak menuju meja bar di salah satu sudut kafe. Di sana, Abrar tampak sibuk melayani dua orang bule dengan keahliannya meramu secangkir espresso menjadi sebuah karya seni. Dia adalah teman kerjaku, seorang barista bertalenta berdarah Aceh.

Kami bekerja di kafe yang sama, The Snap, sama-sama berperan sebagai barista, namun kami berbeda style. Aku lebih suka bereksperimen dengan sesuatu yang baru dan bisa dibilang nyleneh, sedangkan Abrar lebih suka berada di jalan yang lurus.

Aku sendiri sudah menjadi barista sejak tahun 2009. Karena kecintaanku dengan kopi, aku memutuskan untuk lebih intim dengannya. Kuteguk secangkir kopi pertamaku sewaktu aku masih duduk di bangku SMP, diracik oleh bapakku sendiri. Beliau seringkali meracik dan membuat kopinya sendiri. Sejak saat itulah, aku jatuh cinta dengan kopi, terutama kopi buatannya.

Memasuki SMA, hampir setiap malam aku bekerja sambilan di sebuah kedai kopi sambil belajar bagaimana cara menyeduh dan menyajikan kopi. Seringkali aku kena marah orang tuaku karenanya, terutama ibuku. Nilai-nilaiku selalu jeblok dan tak jarang, pena merah tergores di buku raporku, seakan membakar isi buku sekaligus amarah orang tuaku.

Tapi aku masih bersyukur masih kena marah sama orang tua. Setidaknya, mereka masih memberi perhatian kepadaku. Beruntung aku masih bisa lulus dengan nilai yang nggak jelek-jelek amat, menurutku.

Lulus SMA, orang tuaku menyerahkan masa depanku sepenuhnya pada diriku sendiri. Ya, orang tuaku bukan orang berada. Kami tidak tinggal di kota besar, melainkan di salah satu kota kecil di Jawa Tengah, yang masih jauh dari modernisasi kota. Saat ini, aku bersyukur masih mengalami dan menikmati hal-hal indah waktu itu, tinggal di kampong dengan segala budaya tradisionalnya. Jauh sekali dengan kultur modern saat ini.

Singkat cerita, kuputuskan untuk pergi merantau ke kota besar berbekal sedikit keahlianku meracik kopi yang kumiliki. Aku semakin memantapkan mimpiku untuk menjadi seorang peracik kopi handal.

Coffee House adalah kafe pertama yang menerimaku bekerja di kota ini. Alasannya sederhana, mereka suka dengan kopi tubruk racikanku. Ya, selama aku bekerja di kampung, aku hanya belajar bagaimana membuat kopi tubruk yang nikmat, yang kugiling sendiri, dan dengan komposisi sempurna yang kuciptakan sendiri setelah berbulan-bulan lamanya.

Mereka memang memperbolehkanku belajar dan menggunakan alat yang ada, tapi mereka tidak mengajariku, apalagi memberitahu resep racikan mereka. Aku selalu belajar dengan waktu terbatas setelah kedai tutup. Di situlah aku belajar bahwa suhu dan kualitas air, hasil penggilingan biji kopi dan teknik pengadukan kopi sangat berpengaruh pada rasa dan hasil akhir.

Butuh waktu lama untuk mendapatkan pengakuan dari orang kedai tempatku bekerja dulu. Sampai akhirnya menjelang ujian nasional, hasil seduhanku diakui oleh mereka. Dan aku dinyatakan lulus, sebagai peracik kopi tubruk!

Dan di Coffee House inilah aku mulai belajar banyak hal yang sebelumnya tidak aku ketahui sama sekali. Pengetahuanku tentang kopi mulai berkembang pesat. Kutemui berbagai macam cara dan teknik penyajian kopi, lalu mempelajarinya secara bertahap. Kulahap semua informasi dan teknik meracik kopi dari para senior dan internet.

Sebut saja Pour Over, Vietnam Drip, French Press atau Syphon, semua teknik itu sudah sangat kukuasai. Mesin-mesin espresso, latte art dan sejenisnya pun sudah kulahap habis setelah 7 tahun bergulat di dunia ini, berpindah-pindah kota dan keluar masuk kafe dan kedai kopi.

“Don,” ucap Abrar pelan sambil mendekatkan mukanya ke arahku.

“Apa wei, mau ngapain kau!” teriakku bangun dari lamunanku di pinggir meja, sambil menampar pelan muka Abrar. Diapun meringis.

“Apa lah kau ini kawan, kutengok kau dari tadi bengong aja di situ. Ngapain kau? Gimana persiapan besok?” ucapnya sambil membereskan cangkir dua orang bule tadi. Rupanya mereka sudah pergi dari tadi, baru sadar aku, ternyata aku melamun cukup lama.

“Beres,” jawabku singkat sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe. Sudah hampir penuh. Sebagian besar adalah pelanggan tetap yang rata-rata kukenal. Kulambaikan tanganku ke salah satu meja karena kebetulan saja mata kami beradu sewaktu aku sedang menyapu pandanganku.

Besok, bisa dibilang adalah hari besar buatku. Perjalananku selama beberapa tahun ini akhirnya terjawab. Aku akan berangkat ke Yunani untuk mengikuti kejuaraan kopi internasional, event paling bergengsi bagi para barista di planet ini. Yono adalah orang paling bertanggungjawab dalam hal ini.

Dia adalah owner kafe ini, tempat di mana aku bekerja. Yono mengirimkan portofolio sekaligus mendaftarkan diriku tanpa sepengetahuan dan ijinku. That was surprising!

Kejuaraan ini memang sedikit berbeda dengan kejuaraan “standar” lainnya. Kejuaraan ini lebih menantang, sesuai dengan karakteristik diriku. World Coffee in Good Spirits, sebuah turnamen antar barista yang menantang keahlian mereka dalam meramu kopi specialty dan spirits berkualitas tinggi menjadi sebuah kombinasi yang sempurna dengan komposisi seimbang.

Spirits sering diartikan sebagai minuman keras oleh sebagian besar orang Indonesia. Walaupun sebenarnya, penafsiran spirits tidaklah sesederhana itu. Namun, perpaduan sempurna antara kopi dan spirits akan melahirkan minuman yang memiliki rasa luar biasa dan beraroma memikat.

Inilah keahlianku selama ini, yang membuat The Snap meledak dibanjiri pencinya kopi yang haus akan rasa baru yang menantang. Berawal ketika tahun lalu aku berteman dengan seorang bartender di kafe sebelah, lalu muncul ide gila untuk meracik kopi bercampur spirits.

Sejak saat itulah, aku mulai berekperimen dengan ideku itu. Sama seperti saat aku belajar membuat kopi tubruk untuk pertama kali. Namun bedanya, kali ini aku dibantu kawan bartenderku bernama Tender. Aku sendiri masih ragu apakah itu nama asli atau hanya sebuah plesetan dari kata bartender.

“Yon, coba ini,” kataku pada Yono saat itu. Setelah aku berhasil membuat racikan kopi dan spirits yang menurutku sudah sempurna. Yono sendiri tidak tahu apa-apa tentang eksperimenku waktu itu.

“Apaan nih, udah mau tutup, malah nawarin cupping. Bikin apa kau, Don?” katanya sambil menerima cangkir dariku.

“Udah, coba aja. Baru komentar.”

Tanpa banyak tanya lagi, dia mencoba secangkir kopi yang kuberikan padanya. Sruputan singkat pertama, dia terdiam, termenung agak lama, lalu dilanjutkannya lagi. Kali ini lebih banyak. Tenang, ditaruhnya cangkir itu di sampingnya, lalu menoleh kepadaku.

That. Was. Amazing.

What did you put in it? That’s new!” lanjutnya, kali ini lebih bersemangat.

Read More Post
1 of 24

Ah, well. I put spirit in it. Aku pake spicy rum, oleo saccharum, grand marnier dan double shot espresso. Aku habiskan waktu hampir 3 bulan untuk menciptakan ini, Yon.”

You’re sick! But awesome!. Kau gila, tau gak Don. Kopi kau campur dengan arak?”

It’s spirits,” potongku.

“Tau lah aku, Don. Kau pikir aku bodoh apa. Kalo soal spirits aja aku gak tau, gak mungkin aku bisa bangun kafe ini Don, Don,” ujarnya sambil ketawa dan geleng-geleng kepala, lalu menghabiskan sisa kopi racikanku sampai tandas.

“Nah, bikinkan lagi aku satu,”

“Tak ada lagi Bos, kau kan tau sendiri kafe kita ngga jual spirits. Ini aku dapat dari kawanku, limited supply! I just want to know your thought,” kataku.

Well, I guess it’s time to re-design this café. Sudah lama aku memikirkan untuk membuat konsep baru di kafe ini. And thanks to you, Don, now my head blown with the ideas,” katanya sambil menepuk-nepuk pundakku.

“Dah, tutup dulu kafe ini, besok kita kerja keras. Kau. Dan aku,” lanjutnya.

Dan sejak saat itulah, The Snap menjadi trend setter kopi spirits di kota ini. Namaku tiba-tiba menjadi terkenal. Lagi-lagi itu karena Yono. He’s too over reacted about everything. Tapi itulah dia, sudah begitu sejak aku mengenalnya. Orangnya kocak, supel, bos tapi ngga bergaya bos. Seringkali dia disangka waiter oleh sebagian pelanggan baru. Tak sedikitpun dia merasa risih dengan itu.

“Don, kau pulang aja lah dulu, siap-siap buat besok. Besok harus bangun pagi kan? Kejar first ferry ke Singapur?” lagi-lagi Abrar membangunkan lamunanku.

“Ah, iyalah wak. Lagipula ini malam terakhirku di sini, aku mau puas-puasin dulu malam ini,”

Oh, I see. Aku tau maksudmu, Don. But, you’ll be okay, right?”

Sure,” jawabku singkat.

Ok then, take care yourself. You know where to find me if you need anything!” teriaknya sambil melihatku berlalu melewati pintu keluar. Kubalas singkat dengan lambaian tangan.

Sekarang tinggal aku sendiri berjalan menyusuri jalanan kota yang sudah mulai sepi. Kulihat handphone-ku, jam sembilan lewat sepuluh. Lama kutatap layar itu, seakan dia membalas tatapanku. Tatapan manis darinya, sosok yang kurindukan. Yang selalu menghiasi wallpaper handphone-ku setiap saat.

Dia adalah kursi kosongku.

* * *

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pintu itu mulai membuatku risih. Sudah kubilang aku hampir siap, tapi masih saja dia mengetuk pintu. Aku tahu itu Yono. Dia lah yang akan mengantarku sampai ke Yunani, sekaligus mendampingiku. Dia juga lah yang mempersiapkan segalanya untukku.

“Let’s go,” kataku singkat, begitu membuka pintu dan langsung menuju mobil yang terparkir di depan kontrakanku.

Good morning, Amy,” sapaku ke Amy yang duduk di kursi sopir. Dia adalah istri Yono, seorang bule keturunan Irlandia.

Sepanjang perjalanan, kupalingkan wajahku ke arah jalan dan menatapnya lekat-lekat. Bagaimanapun juga, tempat ini lah yang membentukku. Tempat ini juga lah yang mempertemukanku dengannya, cinta sejatiku, kursi kosongku.

“Kau tau dia tak akan datang kan?” kata Yono tiba-tiba.

“Ya, aku tahu. You knew it as well, Yon.”

Yeah, I just want to ensure that you’re all fine,” balas Yono.

I’m fine, dude, trust me. Justru inilah yang akhirnya bisa membuatku berpikir lebih waras. Yang membuatku akhirnya bisa move on. Kau tau sendiri kan, dia yang mengubahku dan mengantarkanku sampai sejauh ini, walau setelah apa yang kuperbuat untuknya. Tapi dia selalu ada, dan selalu hadir untukku, sampai akhirnya dia hanya menjadi kursi kosong untukku.”

Yeah, Kara. She loved you so much, Don.” potong Yono.

“Yang kusesali cuma, aku tak bisa hadir di saat-saat terakhir dia,”

“Kamu juga masih pingsan, Don. Don’t be hard on yourself,

“Aku tahu itu, memang selama ini aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri. Aku lah penyebab kecelakaan itu, tapi justru aku yang selamat. Kau tau sendiri keadaanku waktu itu, Bos. And thanks to you, now I can move on, little by little,” kataku sambil merangkulnya.

“Kupikir ini jalan terbaik, dengan meninggalkan kota ini, aku juga akan mengubur semua memoriku dengannya, dan memulai hidup baru. Tapi, cintanya akan tetap ada di hatiku dan di setiap seduh kopi yang aku racik.”

- Matched Content -

You might also like

Mari Berdiskusi

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More